Jumat, 28 Agustus 2015

Tenang dengan ketetapan Allah

Kisah Nyata : Telat Nikah 

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.

Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab: Benar.

Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!

Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.

Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah.
Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka'bah.
Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur'an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:

(وكان فضل الله عليك عظيما)

"Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar".

(An Nisa': 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضي)

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas".

(Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.

Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.
Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun.
Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang.
Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.

Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku.....

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku.
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku.
Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga.
Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya.....aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.

Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.
Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan.
Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan.
Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman.
Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas.
Langsung saja ia mengucapkan "Selamat, anda hamil!"

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya.
Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung.
Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.

Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.
Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah.
Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya:

"Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulangayat Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضى)

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )

"Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami..." (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

Bila status ini ada manfaatnya silahkan di-share.

Jazaakumullahu khairan

Senin, 17 Agustus 2015

Manaqib Al Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad

Manaqib Al Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad Al Hawi ,Yang Di Bacakan Al Habib Hafidz bin Farid Alaydrus Condet Pada Saat Acara Haul Kemarin.

Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad lahir di Jakarta tanggal 31 Desember 1948 M yang bertepatan 1 Robiul Awal 1368 H, sedangkan nasab beliau Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Zein Al Haddad, terus yang tersambung nasab nya sampai ke Rosululloh Saw, Sedangkan Ibunda beliau Syarifah Hababah Nur binti Mukhsin bin Muhammad AlAttas, Beliau tumbuh besar dalam pendidikan Ayah beliau Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad dan Ibunda Beliau Syarifah Hababah Nur binti Mukhsin Al Attas dan dalam lingkungan keagamaan, lingkungan ilmu dan lingkungan Majelis Ta'lim. Di masa belia, beliau menimba ilmu dengan Al Walid Al Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf ( Bukit Duri ) dan setelah berumur 10 tahun ,beliau berangkat ke Malang, belajar kepada Al Muhadist Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang, Habib Abdul Qadir Al Haddad adalah murid yang paling di sayangi dan di cintai oleh Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih ,sampai di antara murid nya Al Habib Abdul Qadir Al Haddad yang boleh masuk ke rumah Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih bertemu dan bergaul bersama dengan keluarga beliau selayak nya anak beliau, hingga wafat nya Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad mengurung dirinya dikamarnya menolak untuk makan dan minum karna bersedih atas wafat guru nya Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih ,setelah belajar kepada Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih beliau kembali ke jakarta, beliau belajar ilmu kepada ayahnya Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad.
Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad menikah dengan Syarifah Hindun binti Umar bin Ali Al Haddad dinikahkan oleh Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, dari pernikahannya beliau mempunyai 4 orang anak, Syarifah Annisa, Habib Salim, Habib Isa dan Habib Ismail, setelah mempunyai 4 orang anak ,Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad berangkat ke kota Mekkah untuk belajar kepada Al Muhadist Al Alamah Al Habib Muhammad bin Alwy Al Maliky ,Al Habib Muhammad bin Alwy Al Maliky tidak mengetahui bahwa Al Habib Abdul Qadir Al Haddad telah menikah dan mempunyai 4 orang anak, karna beliau menikah masih sangat usia yang cukup muda yaitu umur 18 tahun, setelah beberapa lama Al Habib Muhammad bin Alwy Al Maliky melihat Al Habib Abdul Qadir Al Haddad sering merenung memikirkan anak isrtrinya di jakarta ,barulah Al Habib Muhammad bin Alwy Al Maliky mengetahui bahwa Al Habib Abdul Qadir Al Haddad telah menikah dan mempunyai 4 orang anak, Al Habib Muhammad bin Alwy Al Malikyuntuk Al melihat keteguhan, kegigihan Al Habib Abdul Qadir Al Haddad dalam belajar menuntu ilmu maka Al Habib Muhammad bin Alwy Al Maliky memerintahkan anak istrinya menyusul ke kota Mekkah untuk ikut belajar dan menimba ilmu di kota mekkah bersama Al Habib Abdul Qadir Al Haddad maka berangkatlah mereka dan tinggal di kota Mekkah. Ketika beliau tinggal di kota Mekkah bersama keluarganya beliau,beliau dikarunia kan anak perempuan yang dikasih nama Syarifah Zahro.

Menjelang wafat nya Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad, selalu berwasiat disetiap ceramah " Kholifati Ba'di Waladi Abdul Qadir " sedangkan Al Habib Abdul Qadir Al Haddad masih belajar di Mekkah, Wafat Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad , Al Habib Abdul Qadir masih berada di kota Mekkah, selang beberapa lama beliau pulang ke jakarta melaksanakan kewajiban beliau seperti apa yang diperintahkan sang ayah Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad.

Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad memiliki sifat khomul dan waro , menyembunyikan dirinya, tidak menyukai ketenaran ,tidak menampakan dirinya apa bila hadir di majelis dan duduk di tempat yang paling belakang ,tidak melihat dirinya mempunyai pangkat kedudukan ,memandang dirinya rendah, selalu memuliakan orang sholeh, sangat menyukai tamu ,sehingga banyak tamu yang datang dari berbagai tempat ke tempat Al Habib Abdul Qadir Al Haddad mereka datang untuk makan, minum dan menginap ke tempat Al Habib Abdul Qadir Al Haddad dan beliau senang menerima tamu yang datang ke tempat beliau dari tholabu ilmu, dari para ulama, fukoro wal masyakin. Al Habib Abdul Qadir Al Haddad adalah orang yang sangat mengalah ,rela berkorban untuk orang banyak, tidak pernah menolak jika ada orang yang meminta, tidak pernah bilang "tidak" di depan orang yang meminta. Beliau sangat nengedepankan hajat orang lain dari pada hajatnya sendiri ,dari keluarga dan anak-anaknya. Al Habib Abdul Qadir Al Haddad selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mengalah ,mengalah dan mengalah. Mengajarkan mereka untuk hidup zuhud dan memberikan apa yang dimiliki untuk orang lain, serta menjadi perantara yang baik untuk orang muslim. Beliau adalah orang yang pemalu dan pendiam, saat di caci beliau diam, saat dimaki beliau diam ,saat di hina beliau diam, saat dizholimi beliau diam, saat di ambil hak nya beliau diam namun tiada diam yang lebih bermakna dari pada diam nya Al Habib Abdul Qadir Al Haddad, diam beliau adalah nasehat, diam beliau adalah hikmah, diam beliau adalah rahmah, diam beliau adalah amar ma'ruf ,diam beliau adalah nahi munkar, diam beliau adalah maaf, diam beliau adalah kesabaran. Beliau menutupi dirinya dan menjauh dari ketenaran, penuh dengan kesabaran dan selalu berusaha keras mengikuti jalan orang tua dan para salaf dan Al Habib Abdul Qadir sedih setiap waktu dan setiap kesempatan selalu mewasiatkan "beginilah wahai salim jangan kau tambahkan dan jangan kau kurangi" beliau selalu mengalah dari orang lain dan kepada kerabat dan saudara beliau, tetapi Alloh Swt selalu memenangkan beliau menjaga dan mengangkat kedudukan beliau. Al Habib Abdul Qadir Al Haddad merendah, tapi Alloh Swt meninggikan beliau, Al Habib Abdul Qadir mengalah tapi Alloh Swt memenangkan beliau, Al Habib Abdul Qadir menutupi tapi Alloh Swt menampakan beliau. Dan sekalipun beliau telah belajar di kota Mekkah Al Habib Abdul Qodir di jakarta pun tetep belajar menimba ilmu kepada Al Habib Abdulloh Sya'mi Al Attas sampai wafatnya Al Habib Abdulloh Sya'mi AlAttas. Kemudian Al Habib Abdul Qadir melanjutkan berguru kepada Al Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf sampai Al Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Wafat. Al Habib Abdul Qadir merasa takut akan dirinya dan selalu merasa membutuhkan guru untuk membimbing dirinya, semua guru beliau wafat dalam keadaan ridho kepada Habib Abdul Qodir ,Ibunya Syarifah Nur wafat dalam keadaan ridho kepada Habib Abdul Qadir. Dan di saat Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad wafat semua muslimin ridho kepada Al Habib Abdul Qadir. Begitu dalam peninggalan atau bekas kehidupan beliau.

Sesungguhnya perumpamaan Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad di atas muka bumi adalah seperti yang di katakan Rosululloh Saw " Sesungguhnya Alloh Swt mempunyai hamba-hamba pilihan, yang Alloh Swt ciptakan khusus untuk mengurus hajat-hajat manusia Alloh Swt berjanji demi dirinya, Alloh Swt tidak akan mengangkat mereka dengan api neraka dan apa bila nanti datang hari kiamat, Alloh Swt akan dudukan meraka di atas mimbar-mimbar dari cahaya dan mereka berbincang dengan Alloh Swt ketika manusia sibuk di dalam hisab"

Al Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad merupakan manusia pilihan Alloh Swt, tidak ada orang di zaman beliau dari tetangga, saudara , orang-orang yang dekat maupun orang-orang yang jauh dari beliau dan tidak ada satupun Pondok Pesantren kecuali disitu ada kebaikkan Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad dan jasa beliau..
Maka ketika beliau wafat pada hari senin 10 Desember 2012 , orang-orang dari berbagai negri dan kota datang untuk menghadiri pemakaman beliau, lautan manusia ,isak tangis dan kesedihan menghantar jenazah Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad untuk menghadap Alloh Swt.

Setelah Wafat Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad, Habib Ahmad bin Muhammad Al Maliky ( Putra Abuya Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliky ) Bermimpi dengan Abuya Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliky mengabarkan kepada seluruh pecinta Al Habib Abdul Qadir Al Haddad, Di Dalam Mimpinya Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky Berkata Bahwa
"La Tahzan, Jangan Bersedih Ini Adalah Hari Kebahagian Karna Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad Di Sambut Oleh Seluru Ahli Barzah"

Mudah-mudahan Alloh Swt tidak mengaharamkan keberkahan Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad kepada kita dan semoga anak keturunannya dapat menggantikan estafet perjuangan Habib Abdu Qadir, dan kita dapat berkumpul nanti dengan beliau di surganya Alloh Swt.. Aamin

Sabtu, 07 Februari 2015

Jangan Lelah Dalam Berbuat Kebaikan ^_^


JANGAN LELAH DALAM BERBUAT KEBAIKAN

"Jangan pernah berhenti berbuat kebaikan, yang besar atau kecil, kalian tidak akan pernah menduga amalan mana yang mampu menyelamatkanmu di hari akhir, sesungguhnya Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang"

alHabib Umar bin hafidz pernah bercerita:
Suatu saat nanti di padang masyhar, manusia akan berlarian kesana kemari, mencari dan meminta tambahan pahala pada orang orang yang di kenal, guna menambah berat timbangan kebaikan masing masing,..

Ada seorang saudara di antara mereka yang sedang bersedih dan terduduk dalam keadaan berduka karena dari timbangan, terlihat bahwa hampir semua kebaikan yang pernah dilakukan tertolak, dan menyisakan satu saja pahala yang dia miliki, dia berpikir dan nyaris berputus asa bahwa pasti ke neraka lah tempatnya.. Apa yang terjadi jika hanya memiliki satu pahala?, pasti timbangan keburukan/dosa nya akan jauh lebih berat..

Dan pada saat yang sama seorang saudara lainnya sedang sibuk meminta tambahan pahala, dia butuh satu pahala lagi agar bisa selamat masuk surga, tapi semua orang yang didatangi menolak membantunya, masing masing berkata 'nafsi.. nafsi..' Hingga ia bertemu dengan saudaranya yang sedang sedih terduduk itu, dia meminta dan di berikan, gembira campur heran dan dia bertanya kepada yang duduk, 'mengapa engkau dengan mudah memberi disaat yang lain enggan berbuat demikian?'

Dan di jawab "aku hanya memiliki satu pahala saja, mana mungkin bisa masuk surga, dari pada kita berdua masuk neraka, lebih baik salah satu masuk surga, dan kau lebih pantas untuk itu!'.

Tiba tiba terdengar suara yang berbicara pada orang yang meminta pahala tadi "tariklah tangan saudaramu itu, kalian berdua pantas masuk surga"
SubhanAllah Wabihamdihi
SubhanAllah hil adzim..

Rabu, 07 Januari 2015

Untuk Kebaikan Bersama

Renungan untuk kita semua :
Konon hasil survey mengatakan :
1. Sebuah smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai (mubazir).
2. Sebuah mobil mewah, 70% speednya mubazir.
3. Sebuah villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong.
4. Sebuah Universitas, 70% materi kuliahnya tidak dapat diterapkan.
5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70% nya iseng tidak bermakna.
6. Pakaian dan peralatan dalam sebuah rumah, 70%nya nganggur tidak terpakai.
7. Seumur hidup cari duit banyak, 70% nya dinikmati ahli waris.

"Hidup ini seperti pertandingan bola"
Babak Pertama adalah masa muda. Menanjak karena Pengetahuan, Kekuasaan, Jabatan, Usaha Bisnis, dsb.

Babak kedua adalah masa tua. Menurun karena Darah Tinggi, Trigliserid, Gula Darah, Asam Urat, Kolestrol.... dsb.

Semoga kita selalu Waspada dari babak Awal hingga Akhir, dan ending dengan kemenangan.

Karena itu :
Tidak Sakit Juga Harus Check Up,
Tidak Haus juga harus Minum.
Tidak Galau juga Harus Cari Solusi,
Benar Juga Harus Mengalah.
Powerfull juga Perlu Merendah,
Tidak Cape pun Perlu Rehat.
Tidak kaya pun Perlu Bersyukur,
Sesibuk Apa pun Juga Perlu Olahraga.

Sdr & sahabatku, Hidup itu Pendek, pasti ada Saatnya Finish.
Jangan tertipu dengan usia MUDA, karena syarat mati tidak harus TUA. 
Jangan terpedaya dengan tubuh dan badan SEHAT, karena syarat mati tidak mesti SAKIT.
Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yang baik, walaupun tidak banyak orang yang memahamimu.
Jadilah seperti jantung, dia tidak terlihat, tetapi terus berdenyut setiap saat hingga membuat kita terus hidup sampai akhir hayat. 
AJAL Tak Mengenal Waktu, Usia.
Jadi terus Berbuat Baik dan Menyampaikan Kebenaran terhadap Sesama.

Bersama Alloh Bisa & Ada Solusi. Semoga Bermanfaat.

Jumat, 02 Januari 2015

Kebahagian Milik Kita


هذه القصيدة بشری لنا
Qosidah Busyro Lana (Kebahagiaan Milik Kami)

بشری لنا نلناالمنا ،  زال العنی وفاالهنا

Busyrô lanâ nilnâl munâ, Zâlal ‘anâ wa falhanâ
Kebahagiaan milik kami karena kami memperoleh harapan, dan  hilang sudah semua kesusahan, lengkap sudah semua kebahagiaan

والدهر أنجز وعده ، والبشر اضحی معلنا

Waddahru anjaza wa’dahu, Wal bisyru adlhâ mu’lanâ
Dan waqtu sudah menepati janjinya, dan kebahagiaan menampakkan kemuliaan kami.

يانفس طيبی باللقا ، ياعين قری اعينا

Yâ nafsu thîbî billiqô, Yâ ‘ainu qorrî a’yunâ
Wahai jiwa bahagialah, karena kau akan berjumpa dia.. Wahai mata, tenanglah dan tenanglah..

هذا جمال المصطفی ، أنواره لاحت لنا

Hâdzâ jamâlul Mushthofâ, Anwâruhu lâ hat lanâ
Lihat! Inilah keindahan al~Mushthofa, Cahayanya memancar-mancar menembus jiwa kita..

ياطيبة ماذا نقول ، وفيك قدحل الرسول

Yâ thoibatu mâdzâ naqûl, Wa fîki qod hallar rosûl
Duhai Thoybah (Madinah), apa yang bisa kami katakan? Jika Rosul telah mendiami wilayahmu.

وکلنا نرجوالوصول ، لمحمد نبينا

Wa kullunâ narjûl wushûl, Limuhammadin nabiynâ
Dan kami semua ingin berjumpa dengan Muhammad, Nabi kami

ياروضة الهادی الشفيع ،  وصاحبيه والبقيع

Yâ Roudlotal hâdisy-syafii’ Wa shôhibaihi wal baqii’
Duhai  taman Nabi pembawa petunjuk, dan pemberi syafa’at dan kedua temannya serta tanah Baqi’.

أکتب لنا نحن الجميع ، زيارة لحبيبنا

Uktub lanâ nahnul jamii’ Ziyârotan lihabîbinâ
Catatlah kami semua, bahwa kami berziarah kepada kekasih kami.

صل وسلم ياسلام ، علی النبی ماحی الظلام

Sholli wa sallim yâ salâm.. ‘Alannabiy mâhidh-dholâm
Wahai Tuhan yang Maha Pemberi keselamatan, berikan sholawat dan salam kepada Nabi pengikis kegelapan.

والال والصحب الکرام ، ماأنشدت بشری لنا

Wal âli was-shohbil kirôm, Mâ unsyidat busyrô lanâ
Juga kepada keluarga nabi, para shohabat yang mulia, selama disenandungkan Qosidah ”Busyro Lana”